Geng-Geng..

nuffnang

11 November 2013

When Death come knocking

This poem is sharing from islamictweeter.. Thank you for the writer may Allah bless and grant you an a good idea to keep writing. When Im reading this, my tear is keep flowing. My heart is shaking. I can imagine that the people in this poem is me. 

This poem make me thinks that, as a servant we must fully obey to Allah. He is the creator. He is the Most Almighty.
Here the poem,.

It was early in the morning at four,
When death knocked upon a bedroom door,
Who is there? The sleeping one cried.
I’m Malaikat Maut, let me inside.

At once, the man began to shiver,
As one sweating in deadly fever,

He shouted to his sleeping wife,
Don’t let him take away my life.

Please go away, O Angel of Death!
Leave me alone; I’m not ready yet.

My family on me depends,
Give me a chance, O please prepense!

The angel knocked again and again,
Friend! I’ll take your life without a pain,

Tis your soul Allah requires,
I come not with my own desire.

Bewildered, the man began to cry,
O Angel I’m so afraid to die,

I’ll give you gold and be your slave,
Don’t send me to the unlit grave.

Let me in, O Friend! The Angel said,
Open the door; get up from your bed,

If you do not allow me in,
I will walk through it, like a Jinn.

The man held a gun in his right hand,
Ready to defy the Angel’s stand.

I’ll point my gun, towards your head,
You dare come in; I’ll shoot you dead.

By now the Angel was in the room,
Saying, O Friend! Prepare for you doom.

Foolish man, Angels never die,
Put down your gun and do not sigh.

Why are you afraid! Tell me O man,
To die according to Allah’s plan?

Come smile at me, do not be grim,
Be Happy to return to Him.

O Angel! I bow my head in shame,
I had no time to take Allah’s Name.

From morning till dusk, I made my wealth,
Not even caring for my health.

Allah’s command I never obeyed,
Nor five times a day I ever prayed.

A Ramadan came and a Ramadan went,
But no time had I to repent.

The Hajj was already FARD on me,
But I would not part with my money.

All charities I did ignore,
Taking usury more and more.

Sometimes I sipped my favorite wine,
With flirting women I sat to dine.

O Angel! I appeal to you,
Spare my life for a year or two.

The Laws of Quran I will obey,
I’ll begin SALAT this very day.

My Fast and Hajj, I will complete,
And keep away from self-conceit.

I will refrain from usury,
And give all my wealth to charity,

Wine and wenches I will detest,
Allah’s oneness I will attest.

We Angels do what Allah demands,
We cannot go against His commands.

Death is ordained for everyone,
Father, mother, daughter or son.

I’m afraid this moment is your last,
Now be reminded, of your past,

I do understand your fears,
But it is now too late for tears.

You lived in this world, two score and more,
Never did you, your people adore.

Your parents, you did not obey,
Hungry beggars, you turned away.

Your two ill-gotten, female offspring,
In nightclubs, for livelihood they sing.

Instead of making more Muslims,
You made your children non-Muslims.

You ignored the Mua’dhin Adhaan,
Nor did you read the Holy Quran.

Breaking promises all your life,
Backbiting friends, and causing strife.

From hoarded goods, great profits you made,
And your poor workers, you underpaid.

Horses and cards were your leisure,
Moneymaking was your pleasure.

You ate vitamins and grew more fat,
With the very sick, you never sat.

A pint of blood you never gave,
Which could a little baby save?

O Human, you have done enough wrong,
You bought good properties for a song.

When the farmers appealed to you,
You did not have mercy, tis true.

Paradise for you? I cannot tell,
Undoubtedly you will dwell in hell.

There is no time for you to repent,
I’ll take your soul for which I am sent.

The ending however, is very sad,
Eventually the man became mad

With a cry, he jumped out of bed,
And suddenly, he fell down dead.

O Reader! Take moral from here,
You never know, your end may be near

Change your living and make amends
For heaven, on your deeds depends.

Author Unknown

06 November 2013

Usah Cemburu..Rezeki itu rahsia Allah..

" Awak, saya dah dapat kerja, saya lulus interview"
" Owh, ye ke..Tahniah..okey lah tu"

Adakah ucapan tahniah itu ikhlas? Atau ada nada rasa cemburu bergema di dalam hati 'mengapa aku belum punya sebarang pekerjaan,padahal selama ini kami sentiasa bersama'. Pernah anda berasa bahawa, sahabat baik kita lebih bernasib baik berbanding kita? Usia persahabatan sudah menjangkau 11 tahun, selama ini walau kemana kaki melangkah akan sentiasa bersama, segala kesedihan dikongsi bersama, kegembiraan berkongsi tawa.

"Aah, dia sudah mendapatkan pekerjaan, mengapa aku masih belum ada?" jauh disudut hati ada rasa iri hati bertandang, ada rasa cemburu menjentik tangkai hati.

Perasaan sebegitu seharusnya tidak timbul apatah lagi orang itu adalah sahabat baik kita. Bersangka baiklah pada yang memberikan rezeki. Mungkin belum tiba masanya untuk kita menjadi seperti sahabat kita itu. Cubalah check kembali hati kita, mungkin tika berhadapan dengan ujian sahabat kita itu menyerahkan segalanya pada Allah, tika diberikan nikmat mungkin sahabat kita itu sentiasa bersyukur atas pemberiannya. Mungkin akan ada persamaan antara kita dan sahabat baik kita dari segi zahirnya namun batin setiap manusia itu tidak akan pernah sama. 

Allah ingin mengajar kita untuk menjadi sahabat yang baik. Dia menguji persahabatan dengan memberikan yang lebih baik kepada sahabat kita. Naa, di sini Allah ingin melihat, apakah kita akan rasa gembira di atas kegembiraan sahabat kita atau sebaliknya. Apabila kita sayang kepada sahabat kita, kita sepatutunya sentiasa di sisinya untuk menjadi penyokong dan tulang belakang tika diperlukan.

Usah berasa cemburu diatas rezekinya, Rezeki itu juga seperti jodoh. In shaa Allah telah ada cuma kita tidak tahu bagaimana bentuknya dan bila kita akan  mendapatkannya. Yang perlu kita lakukan ialah tetap bersabar dan mensyukuri apa yang kita ada sekarang. Boleh jadi kita belum bersedia untuk menghadapi dunia pekerjaan sebab itulah Allah tangguhkan dulu untuk kita membina keyakinan diri sebelum melangkah ke dunia yang baru. Alam pekerjaan itu tidak akan sama dengan alam pengajian kita.

13 October 2013

Baiknya TUHAN

Dengan ditemani rintik-rintik hujan, saya, Ibu dan Kakak duduk bersama menanti kepulangan ayah tercinta. Berbual kosong sambil bergelak tawa. Tiba-tiba, mulut ini mengungkap kata pada Ibu dan Kakak..
" Baik kan TUHAN, saat kita betul-betul memerlukan sesuatu DIA berikan" Kakak saya turut mengiyakan kata-kata itu. 

" Sebab itulah kita kena bersyukur, dan jangan kedekut, nanti in shaa allah TUHAN akan murahkan rezeki"

Tiba-tiba Ibu bersuara " Ibu selalu rasa susah je pun" Sambil tersenyum. Saya sedikit terkejut. Mungkin Ibu belum memahami sepenuhnya tentang konsep bersyukur. Sedangkan saya ini pun, baru kini memahami konsep bersyukur dengan sebenar-benarnya, Bersyukur dengan kurniaan Allah, dari sekecil-kecil perkara sehingga ke sebesar-besar perkara.

Dengan senyuman saya berkata " Tak baik macam tu, kita kenalah sentiasa bersyukur, cuba lihat kehidupan kita sekarang, tak lah susah mana, masih boleh makan nasi walaupun kadang-kadang tak berlauk, sedangkan yang mereka yang lain belum tentu boleh makan." Saya faham mengapa Ibu saya berkata sedemikian, kerana dia merasa sangat payah di saat membesarkan kami semua suatu ketika dahulu.

Ibu saya mula bercerita, tentang pengalaman lalu. Tidak perlulah diceritakan di sini. Bagi seorang Ibu semestinya pengalaman itu amat perit untuk dikenang dan bagi kami sebagai seorang anak, sesungguhnya betapa besar pengorbanan seorang ibu dan ayah sehinggakan sanggup tidak makan untuk anak-anak. Pengalaman itulah menjadi motivasi saya dan kakak agar terus berjaya dalam bidang pelajaran.

" mungkin dulu ibu tak bersyukur kot" Mengusik sang Ibu. 
Saya mula bercerita dengan Ibu, tentang betapa baiknya TUHAN itu. Dan kita sebagai hamba yang diciptakan perlulah redha dengan apa jua takdir yang telah ALLAH berikan. Adakalanya takdir itu sakit untuk dilalui tapi kita jangan lupa bahawa ALLAH ingin mengajar kita erti ketabahan.

Walau apapun yang berlaku jangan sesekali merungut dan berkeluh kesah. Berdiam diri lebih baik dan juga lupa menjaga hati. 

Terlalu banyak tentang Islam yang Ayah dan Ibu tidak dan kurang ketahui begitu juga dengan kami(anak-anaknya). Dan kami sebagai seorang anak yang serba sedikit tahu tentang Islam mencuba untuk menyampaikan kepada kedua ibu dan ayah serta keluarga. Ya, memang terasa kepayahannya. Saya seringkali memujuk hati ini dengan berkata "ALLAH kan Ada".

Pesan wajib, ibu dan ayah tika kami berjauhan ialah "jangan tinggal solat". Hati tersenyum, kerana sebelum ini, saya tidak pernah mendengarkannya. Moga ALLAH, permudahkan buat kami sekeluarga.
Semoga saya dan keluarga diberikan kekuatan untuk mengamalkan cara hidup Islam.



08 October 2013

Ketika Harus Melepaskan Cinta

Assalammualaikum sahabat-sahabat pembaca semua. Semoga sentiasa dibawah lindungan dan payungan rahmat yang esa. Kali ini penulis ingin berkongsi sebuah artikel yang diperolehi daripada laman web AKUISLAM. Terima kasih kepada pemiliknya kerana menyajikan tulisan yang bermanfaat.
Penulis sangat terkesan dengan entry akuislam yang memaparkan inti penulisan yang begitu dekat dengan penulis sendiri. Kadang-kadang ada yang terkena batang hidung ada juga terasa tersindir dek penulisan yang begitu menginsafkan. 
**********
Hidup ini selalu berputar, tak selamanya kita berada dibawah dengan semua kepedihan dan tak selamanya kita diatas dengan segala kesenangan. ALLAH Maha Adil..
Hanya Dia yang Tahu mana yang terbaik untuk hamba Nya..
“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak. ( Al-Baqarah 216 )”
Sahabatku,  ada perih disudut hati, ketika engkau cerita tentang segala yg kau alami.. Setelah sekian lama kau bertahan Setelah sekian lama kau memendam luka.
Setelah sekian lama kau rendam nestapa rupanya Allah izinkan juga engkau tempuhi jalan itu Aku percaya, itu suatu “keputusan terakhir” yang terbaik untukmu…
Sahabatku, Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan. Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan..
Tetapi ada saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang bukan kerana orang itu berhenti mencintai kita melainkan kerana kita menyedari bahawa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.
Melepaskan
* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kebahagiaan kita sangat bergantung pada orang itu.
* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita merasa dia itu kacak, cantik, teristimewa dibandingkan dengan yang lain.
* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita takut tidak dapat menemui yang seperti dia lagi.
* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika begitu banyak saat-saat indah bersamanya, sentiasa terbayang di benak kita.
* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika hati kita berkata “Saya sangat mencintainya”.
Ingatlah..
Melepaskan bukanlah berakhirnya melainkan awal dari suatu kehidupan baru…
* Kita harus melepaskan seseorang kerana kebahagiaan kita tidak tergantung padanya.
* Kita harus melepaskan seseorang kerana kita menyedari yang kacak,yang cantik, yang istimewa belum tentu yang terbaik buat kita.
* Kita harus melepaskan seseorang kerana kita tahu jika Allah mengambil sesuatu, Dia telah siap memberi yang lebih baik.
* Kita harus melepaskan seseorang ketika saat-saat indah hanyalah tinggal masa lalu.
* Kita harus melepaskan seseorang kerana kepala kita berkata “tidak ada lagi  yang dapat dipertahankan”.
* Kegagalan tidak bererti kita tidak mencapai apa-apa, namun kita telah memahami sesuatu! Segala sesuatu ada waktunya, ada saat mempertahankan, ada saat melepaskan…!
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap” (QS.94:1-8)
Kadangkala Allah mempertemukan kita dengan orang yang tidak tepat sebelum mempertemukan kita dengan orang yang tepat supaya kita bersyukur akan belajar daripada kurniaNYA dan belajar daripadanya …
Sumber:  http://akuislam.com/blog/renungan/ketika-harus-melepaskan-cinta/

12 September 2013

Aurat Or Fesyen?


"Pakai itu tak boleh! Pakai ini tak boleh! Ish, menyusahkan betullah! Nak bergaya pun tak boleh!"

Wah, banyaknya rugutan. Tahu tak mengapa rungutan seperti ini timbul? Kerana kita terlalu mengikut nafsu, tidak kurang juga yang ingin dilihat cantik dan anggun.

" Kalau pakai biasa-biasa je, tiada keyakinan dirilah"

Betulkah begitu? Keyakinan itu tidak diukur dengan bagaimana cara kita berpakaian. Tidak semestinya tidak bergaya atau berfesyen itu tidak mempunyai keyakinan. Anda sendiri juga melihat, ramai mereka yang hanya berpakaian biasa-biasa sahaja lantang dalam bersuara untuk melontarkan pendapat masing-masing. Ramai juga mereka yang berpakaian biasa-biasa sahaja berjaya dalam setiap bidang yang mereka ceburi.

So, lepas ini jangan jadikan pakaian sebagai alasan agar kita kurang berkeyakinan ya..>_<
Dalam Islam, tidak salah untuk bergaya tapi biarlah tidak menarik mata-mata sang Adam untuk lebih tertarik untuk memandang. Tidak salah untuk berfesyen tetapi biarlah mengikut syariat Allah. Apa-jenis fesyen sekalipun biarlah kita dahulukan syariat.

Penulis juga pernah terjebak dengan fesyen yang entah apa-apa pada zaman sekarang ini. Betapa jahatnya nafsu itu hingga kita tidak mampu untuk mengawal diri sendiri. Disebabkan terlalu dipersembahkan dengan pelbagai jenis gaya yang anggun lagi mempersona akhirnya tewas jua  di lautan nafsu. Tetapi bila dah terjebak, cepat-cepatlah kembali ke pangkal jalan. Penulis  juga sedang belajar untuk berubah sedikit demi sedikit. Dahulu penulis memang suka pakai shawl tetapi sebelum itu penulis memakai tudung bawal sahaja ada juga sesekali penulis memakai tudung labuh bulat. Tetapi entah mengapa, akhirnya terpengaruh jua. Kadang-kadang kita terlalu mendahulukan nafsu berbanding syariat.

Sesekali, penulis cuba untuk muhasabah diri, mengapa meninggalkan sesuatu yang lebih baik dan beralih kepada sesuatu yang baru yang membuatkan hati penulis tidak merasa tenang. Suatu hari, penulis terbaca tulisan seorang sahabat muslimin " perempuan yang memakai shawl atau selendang agak menonjol". Bermula dari situ penulis secara perlahan-lahan mula berubah. 

Tulisan ini bukan bertujuan untuk menyindir siapa-siapa sahaja, tulisan ini sekadar nukilan hati buat untuk mengingatkan diri ini agar terus bertahan dan tidak kembali kepada yang dulu. Nukilan ini sekadar untuk memberikan semangat kepada penulis.

Wallahualam
Semoga diberkati
Dan buat mereka yang sedang berubah, semoga kita sama-sama kuat untuk bertahan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...